Ruang Lingkup Aqiqah

Aqiqah secara harfiah adalah rambut yang ada di kepala bayi ketika dilahirkan. Sedangkan secara etimologi (syara`) ialah binatang yang disembelih ketika memotong rambut bayi. Aqiqah sangat dianjurkan di dalam syara` karena berdasarkan salah satu pendapat jika anaknya tidak dilaksanakan aqiqah, maka ia tidak diizinkan memberi syafa`at kepada kedua orang tuanya.

Aqiqah diperintahkan kepada muslim yang memiliki kewajiban memberi nafkah kepada anaknya walaupun ia faqir. Terlebih dari hartanya sendiri bukan dengan harta sang anak (apabila anak tersebut memiliki harta).

Landasan hukum aqiqah sendiri adalah sunah, sehingga jika menggunakan harta anak, maka harus dibayar. Ibu tidak diperintahkan aqiqah kecuali ketika suaminya jatuh miskin. Tak sebatas itu, disunnahkan bagi si ibu untuk menunaikan aqiqah terhadap anak zina, jika tidak ada aib.

Namun konteks yang harus dicermati adalah jika status anak zina ini merdeka. Apabila anak tersebut hamba sahaya tidak sunatkan aqiqah bagi sang ayah walaupun hidup dalam kegelimangan harta (kaya). Hal ini disebabkan karena nafkah anak tanggungan tuannya. Meski begitu, tidak pula disunnahkan aqiqah kepada tuannya.

Adapun anak yang diaqiqahkan adalah anak yang sampai masa tiupan ruh padanya walaupun ia keguguran. Maka tidak luput sunnah aqiqah karena meninggal sang anak.

Adapun apabila anak sudah sampai umur baligh sedangkan belum pernah diaqiqah untuknya maka berpindah perintahnya dari ayah kepada anak tersebut. Disunnahkan tidak dipecahkan tulang binatang yang diaqiqahkan, tetapi dipisahkan anggota-anggotanya karena sebagai sampena agar selamat anggota tubuh anak yang diaqiqahkan. Disunatkan pula daging aqiqah dimasak sama seperti walimah yang lain kecuali bagian kakinya (lebih baik kaki kanan). Ada baiknya, bagian tersebut diberikan mentah (belum dimasak) kepada yang membantu persalinan. Lebih afdhal lagi, masakan aqiqah diracik dengan bumbu yang manis agar manis akhlaknya pun karena Rasulullah SAW. suka madu dan hidangan yang manis-manis. Disunnahkan pula masakannya diberikan untuk orang-orang fakir.

Note : Pada hari ketujuh kelahiran disunnahkan melakukan aqiqah, mencukur rambut dan memberi nama yang baik pada sang anak. Jika ia terlahir dalam keadaan meninggal dan tidak diketahui jenis kelaminnya, maka ia diberi nama dengan nama ma`lum (yang biasa dipakai) untuk anak laki-laki atau perempuan. Contohnya Thalhah, Hindun dan lain sebagainya.

Jika merujuk pada kitab Shahih Bukhari, dapat dipahami bahwa jika orang tua tidak berencana untuk mengaqiqah anaknya, maka dianjurkan menyematkan namanya sejak satu hari pasca kelahiran. Jangan sampai ditunda pemberian namanya hingga hari ketujuh.

Sabtu, 27-02-21

By: Tgk. Nasrul Zahidy

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *