Secangkir Kopi

Hmmmmm….(menghela nafas)  Memang paling nikmat minum secangkir coffee panas di saat hujan turun, aku duduk menyendiri di caffee coffe pinggir jalan, disamping jendela yang cukup lebar, pandanganku menatap keluar melihat lalu lalang kendaraan, bibirku tersenyum kecil melihat sebagian anak sekolah berlari beralaskan sebuah Koran dan tas nya karna menghindari lebatnya hujan.*************TRRRIINGGG……..Bunyi lonceng kecil itu sangat familiar ditelingaku, yaa  bunyi sebuah lonceng kecil yang sengaja dipasang tepat di atas pintu caffe elit ini yang menandakan seorang pelanggan  masuk. “ a glass of coffee, please”Sahut seorang wanita yang baru masuk dengan rambut coklatnya. Sambil menggosok rambutnya yang sedikit basah, tiba-tiba Mengalihkan pandanganku yang menatap keluar sejak tadi.Entah apa? Penjaga kasir itu tiba-tiba menunjuk kearahku, spontan wanita itu berbalik menatapku, matanya yang sedikit sipit, dengan sedikit senyuman diwajahnya, ia menghampiriku langkah demi langkah dan duduk tetap dihadapanku.“Hallo..” sahutnya manis, aku hanya tersenyum dan memalingkan pandanganku ke arah luar jendela lagi, tiba-tiba seorang pelayan mengantar secangkir Coffee ke wanita itu “Makasih…”  sahutnya manis sambil memegang  telinga cangkir,“Kamu sering kesini ya?” tanyanya spontan, membuaatku melepas cangkir yang kuputar dari tadi, aku sempat menatapnya sebentar seblum ku menjawab pertanyaannya“Tidak juga, aku hanya mampir karena sedang hujan saja “ ( sahutku santai )“Asli dari sini?” ( lanjutnya lagi)“Tidak”Seketika jawaban itu, aku dan dia terdiam membisu, mungkin karna jawabanku yang singkat dan bernada kurang enak didengar.“Emmm.. namaku Liona”  (sahutnya sambil menjulurkan tangannya )“Oh my goodness, apa wanita ini tak tahu malu, entah apa yang ada dalam pikirannya. Yaaa…. Aku sedikit trauma berkenalan dengan perempuan, mungkin aku yang terlalu terobsesi dengan kejadian 2 tahun lalu, seorang wanita yang sangat kucintai meninggalkanku karena menemukan seseorang yang lebih dariku, dia bilang aku tak berguna dan tak pantas untuknya, apa semua wanita seperti itu?  hanya mendekati kita  saat kita benar2x berada dipuncak , ada pepatah yang mengatakan  habis manis sepah di buang, dari itu aku selalu sinis terhadap seorang wanita, dan malas berkenal dengan wanita yang tak jelas sepertinya, membuatku muak berada disamping mereka” (batinku) ***Karena aku hanya memandang kosong padanya dengan sedikit sinis, ia menurunkan tangannya sambil menahan malu, wajahnya memerah dan langsung meneguk kopi dicangkirnya sambil menunduk pandangannya“Kenapa kamu duduk disini?” tanyaku sambil memainkan cangkir cpffee ku“Oh itu, ku lihat tadi sudah tak ada tempat, jadi seorang pelayan menunjuk kearah sini. Yaaaahh.. apa boleh buat, aku duduk saja, apalagi diluar sedang hujan lebat, Oh yaa.. kamu sendiri?” ( dia kembali bertanya padaku)“Menurutmu?” sahutku sinis“Hmm.. yahhh.. mungkin saja kamu bersama wanitamu. Uuuummm magsutku kekasihmu” (sahut wanita cantik itu sambil tersenyum kecil)“Heh…!!!! Kekasih? wanita tak ada yang benar, sama saja” (entah apa yang membuatku tiba-tiba berbicara semauku, mungkin karna rasa benciku pada seorang wanita yang membuat bicaraku sedikit tidak terkontrol)“Oh gitu.. biasanya seorang yang berbicara seperti itu kadang kala terobsesi dengan masa lalunya loh”(seketika kata-kata wanita itu membuatku terdiam menatap matanya )“Hum.. hujan mulai redah, mungkin aku duluan” sahutnya sambil memakai tasnyaIa segera memanggil pelayan dan membayarnya, Aku hanya terus memandangnya karna kalimat terakhirnya seketika ia berdiri dan hendak pergi, ia mengucapkan sesuatu yang tak masuk akal lagi“Oh yaa.. sekali lagi namaku Liona” sambil menjulurkan tangannya sekali lagi,Aku hanya tersenyum aneh melihatnya dengan alis ku naikan , tapi herannya wajahnya tak menunjukan rasa malu sama sekali, ia malah tersenyum kecil menatapku.“kenapa? Apa kamu tak punya nama?” lanjutnya“Aku hanya sedang malas mengenaa…………..”“Aaaaaa….” Sahutnya lirih, aku sedikit kesal dengannya, karena memotong pembicaraanku, spontan ia kembali duduk di hadapanku, lalu menatapku tajam kearahku“Haahhh……” apa yang membuat gadis ini bertingkah aneh didepanku“Ternyata benar, kau trauma ya dengan seorang wanita…. Tahu tidak? Secangkir kopi ini sama halnya dengan kehidupan kita, lihat saja kotoran ampas kopi ini. masih ada, jika tidak dicuci bersih”Aku sedikit kesal dengan ucapannya, raut wajahku berubah seketika itu, wanita itu hanya menatapku ia tahu aku tersinggug atas ucapannya, seketika itu ia tersenyum lagi“Artinya jika kamu hanya bercermin atas kejadian yang lampau kamu hanya merasakan pahitnya, kenapa tidak mencoba yang baru? Seperti cangkir yang sudah dibilas dari sisa kopi yang melekat, jika kau tidak mencobanya, kamu hanya akan menjadi cangkir yang belum terbilas, yang membiarkan kotoran kopi melekat pada sang cangkir, ingat dulu itu dulu dia hanya boleh menjadi memori hanya sebuah sejarah, sejarah no future”Ia membuatku terdiam seketika, entahlah kata-katanya serasa menghancurkan tembok opiniku, kalimat yang ia ucapkan membuatku merasa bersalah pada diriku sendiri, aku yang sudah banyak menghina dan tak peduli pada seorang wanita, hanya karena seorang yang dulu pernah meninggalkanku .Seketika ia berdiri kembali“Aku pergi dulu, oh yaa.. maaf sudah menganggu waktu santai minum kopimu.” Ia berjalan meninggalkanku, baru beberapa langkah ia balik kerahku“Oh ya.. ehmmmmmm. Terutamaaaaaa, semua wanita tidak sama loh…” ia pun tersenyum dan benar-benar meninggalkanku, aku masih terdiam melihat langkahnya semakin menjauh. Tiba tiba saja aku tak bias menahan kakiku untuk mengejarnya, hingga keluar cafée.“Heiii….” Sahutku memanggilnyaSepontan Ia berbalik dengan menggunakan payung hitam, ia menatapku jarak ku sekitar 5 meter darinya.“namaku Alex” (sahutku tersenyum padanya)Sekali lagi Ia hanya memberi senyuman, tapi kali ini senyuman itu benar-benar berbeda  kemudin ia  benar-benar meninggalkanku, aku hanya terdiam terpaku menatap punggungnya yang semakin jauh tanpa terlihat sedikitpun jejaknya.aku hanya terdiam trus memandang kearah gadis itu pergi. aku baru saja mengenalnya setengah jam, tapi ia membuatku sadar akan kejadian dua tahun lalu. dan kuharap, aku bisa bertemu dengannya lagi, seorang wanita yang telah menghapus obsesi masa laluku dari sebuah cangkir coffe”.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *