IDUL FITRI (BUKAN) HARI KEMENANGAN

Idul Fitri (Bukan) Hari Kemenangan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tidak tepat idul fitri dirayakan sebagai “hari kemenangan”. Terlalu naif mengartikan “menang” hanya gara-gara sanggup 30 hari menahan lapar dan dahaga. Anak kecil juga bisa. Ramadhan bulan training, bulan penempaan, bulan perkaderan; guna menghadapi sisa 11 bulan lainnya.

Kemenangan bukanlah ketika telah selesai mengikuti 1 bulan pendidikan ruhaniah. Melainkan ketika dengan bekal itu kita mampu sepanjang hidup mengalahkan bala tentara iblis Iblis. Mereka musuh paling nyata yang harus kita hadapi selama hidup, yang pada akhirnya menentukan kita sebagai pemenang atau pecundang.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata” (QS Albaqarah 2 : 208).

*****

Pernyataan perang iblis dengan manusia sudah terjadi sejak awal. Sejak penciptaan manusia, iblis sudah merasa tersaingi superioritasnya. Ia menolak patuh kepada Allah. Ia menjadi terkutuk, terusir dari kenikmatan Tuhan, dan dijanjikan neraka. Ia tidak mau sendirian. Ia berjanji menyesatkan anak cucu Adam (QS. Al-‘araf: 11-20).

(11) Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (12) Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (13) Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (14) Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (15) Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (16) Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (17) Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (18) Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya”. (19) (Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim”. (20) Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”.

Dalam perjanjian dengan Tuhan, iblis meminta untuk menggoda manusia. Tidak hanya selama manusia hidup, tetapi sampai ke alam kubur, bahkan sampai hari kebangkitan. Dalam proses bargaining tersebut, iblis diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyesatkan manusia hanya sampai batas hembusan nafas terakhir saja (QS. Alhijr 15 : 36-40):

(36) “Berkata iblis: “Ya Tuhanku, jika demikian, maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari mereka dibangkitkan. (37) Allah berfirman: “Dengan permohonanmu maka sesungguhnya engkau termasuk yang diberi tangguh”. (38) “Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan”. (39) Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (40) Kecuali hamba-hamba Mu yang ikhlas”.

Maka kematian menjadi garis finis menang atau tidaknya seorang anak Adam dalam melawan iblis dan sekutunya. Oleh karena itu, hidup ini sederhana saja, konsistenlah untuk menyembah Allah swt sampai mati. Sebagaimana disebut dalam QS. Aali Imran 3 : 102: Walatamutunna illa wa antum muslimun. “Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan menyembah (patuh) kepadaku.” Seolah-olah Allah swt berkata, “Setelah mati terserah kalian mau menyembah siapa.”

*****

Oleh sebab itu, paska Ramadhan jangan terlalu cepat merasa menang, apalagi larut dalam eforia. Seringkali seseorang kalah dalam sebuah kompetisi, justru pada saat sudah merasa menang. Merasa menang itu sendiri termasuk jenis kesombongan, apalagi merasa diri sudah begitu suci. Menang atau tidaknya kita bukan pada hari raya idul fitri.

Makanya, Nabi SAW langsung menyambung Ramadhan dengan puasa enam. Sebagai tanda, perang belum usai. Bahkan dalam tradisi sufi tertentu (juga merujuk kepada praktik pendisiplinan diri super ketat dari para nabi), puasa ini dilakukan dengan menahan makan minum selama 6 hari 6 malam. Sebuah amalan yang mampu membawa jiwa anda terbang ke alam malakut. “Bisa berjumpa Tuhan saat berbuka.” Dari sisi kesehatan bahkan mampu mematikan sel-sel kanker. Namun jangan ikuti ini, sebelum anda paham teknis puasa khawasul khawas kaum arif tersebut.

Kemenangan adalah ketika kita hidup tanpa lagi digerakkan oleh iblis. Semua tindakan kita terjadi atas keinginan Allah. Dalam tradisi sufi disebut gerak raqib, “langkah kanan”, gerak Tuhan. Itulah gerak sesungguhnya dari kepasrahan total (muslimun). Mereka yang telah dibimbing Ruhul Quddus ini disebut ashhabul yamin atau ashhabul maimanah (golongan kanan). Hal ini lebih mudah dipahami oleh mereka yang telah memperoleh sinyal-sinyal ilahi (muraqabah) setelah menjalani sejumlah tahapan dari tarekatullah. Tentu yang dibimbing oleh seorang rasul, nabi atau wali.

Oleh karenanya, sekali lagi, hari seperti idul fitri bukan untuk dirayakan sebagai “hari kemenangan”. Idul fitri hanya sebatas hari syukur dan ikhlas. Boleh jadi kita baru menyelesaikan sebuah perjuangan, tetapi belum menang. Menang atau tidak dinilai dari keseluruhan proses hidup, dan penentuannya ada disaat ajal. Sehingga hari raya tidak untuk dirayakan dengan foya-foya, kemewahan baju dan makan berlebihan. Melainkan dengan dzikir dan taqwa.

Ingat, di gerbang idul fitri sang iblis sudah kembali menunggu. Perjalanan (salik) dan pertarungan (mujahadah)akan kembali dimulai. Senjata terbaik untuk memenangkan seluruh peperangan ini adalah “peluru-peluru taqwa.” Ini sesuatu yang semoga sudah kita dapatan selama bulan puasa (la’allakum tattaqun, QS Albaqarah 2: 183).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *