Islam Yang Rahmatan Lil’alamin Adalah Islam Yang Asing

Oleh : Teuku Muhammad Jafar Sulaiman, MA.


Islam adalah agama termuda dalam sejarah agama-agama samawi. Islam adalah sebuah ajaran yang dalam sejarahnya berupa kepingan untaian hikmah agama hanif (kelapangan) yang dibawa oleh para nabi dan rasul dimana kepingan-kepingan itu terus bersatu menuju kekesempurnaan yang kesempurnaan puncaknya ada pada Rasulullah Muhammad SAW yang kemudian bernama Islam. Rasulullah Muhammad diutus kedunia adalah untuk memperbaiki akhlak umat manusia, karena akar kata akhlak itu adalah khalik, jadi akhlak itu adalah khalik (Tuhan) itu sendiri. Artinya, manusia kenal Tuhan terlebih dahulu, baru akan bisa berakhlak dengan akhlak Tuhan (dengan cahaya Tuhan) sehingga bisa menjadi rahmatan lil’alamin karena ada cahaya Tuhan bersamanya dan jika tidak kenal Tuhan, maka manusia hanya bisa berakhlak dengan akhlak manusia saja, tanpa ada cahaya Tuhan dalam dirinya.  Berislam sejati itu adalah berislam zahir dan batin, berislam secara jasmani dan ruhani. Karena yang akan kembali ke Tuhan itu adalah ruh, bukan jasad, jadi sayang sekali jika sepanjang hidupnya umat Islam hanya berislam jasmani saja, sedang ruhnya tidak berislam.

Ketika kita bicara Islam dengan huruf kecil (islam), maka artinya kita bicara substansi, bicara nilai (value), bicara tradisi yang bahkan mencakup semua tradisi agama. tetapi ketika kita bicara Islam dengan huruf besar (Islam), maka itu adalah Islam sebagai suatu ideologi yang sudah merupakan satu produk historis politis. jika kita bicara Islam sebagai sebuah produk sejarah, maka disitu ada satu penafsiran, ada ideologisasi, ada fiksasi dari penafsiran yang kemudian melahirkan sekian banyak mazhab.
Pintu masuk Islam itupun beragam, kalau masuk lewat pintu fikih, maka akan muncul sosok Tuhan yang tukang menghakimi, kalau masuk lewat pintu teologi maka akan muncul beragam pemaknaan : mukmin, kafir, musyrik, murtad dan semua teman-temannya. kalau masuk lewat pintu filsafat maka hasilnya adalah Tuhan Yang Mahacerdas, kalau kita masuk melalui pintu sejarah, kita akan menemukan Islam sebagai sebuah panggung konflik yang berkepanjangan, sebuah Islam yang tidak luput dari hegemoni dinasti-dinasti, hegemoni dinasti-isme yang dimulai sejak masa sahabat, kemudian ada Umayyah, Abbasiyah dan sekarang Saudi Arabiyah. Islam saudi Arabiyah adalah Islam milik keluarga saud, bukan Islam milik umat Islam, kalau di Jordania ada Hasyimiyah, Islam milik keluarga Hasyim.
Kalau masuk Islam itu lewat pintu tasawuf, maka yang muncul dan hadir adalah Tuhan Yang Maha Kasih, Tuhan sebagai Sang Kekasih, Tuhan Maha Penyayang, yang mengayomi, bukan Tuhan sebagai tukang menghakimi, bukan sebagai tukang mengkafirkan dan Islam keseharianhya adalah Islam santai, sejuk, penuh canda, penuh humor, lentur dan rileks.
Islam itu adalah sebuah konsep, yang dipahami berdasarkan latar belakang kultural, latar belakang pengetahuan atau latar belakang akademis masing-masing. Pemahaman Islam tidak bisa dilepaskan dari sebuah faktor yang sangat penting yaitu kepada siapa berguru, background bergurunya apa, berapa lama, dimana, sampai tingkat apa belajarnya, semua itu akan mempengaruhi tingkat pemahaman terhadap Islam. Kebanyakan umat Islam memahami Islam hanya sebagai warisan (taken for granted), turun temurun dari orang tua, sebagai warisan darah, nasab, menjadi warisan akidah, tanpa sama sekali mempertanyakan, mengkritisi atau memverifikasi warisan yang dia terima tersebut.  
Islam itu berlapis, memahaminya juga berlapis dan bertingkat-tingkat,jika diibaratkan sebagai sebuah kelapa, maka Islam itu ada Islam kulit luar yaitu sepet kelapa, ada batok kelapa, keras, Islam dilevel ini akan dipahami dengan keras dan tekstual, tanpa kompromis, lapis berikutnya, didalamnya ada lagi isi (daging) kelapa yang lembut dan tidak keras, namun itu belumlah sebuah akhir, belum ditemukan inti sari,  isi kelapa ini bisa diolah menjadi santan, dari santan akan bisa menjadi minyak kelapa, ini lah intisari Islam, inti sari akhir dari Islam.
 Jika Islam itu didapat dari berguru kepada ahli fikih, maka Islam yang akan dipahami adalah Islam sebagai sebuah peraturan kaku, yang semua akan dinilai berdasarkan boleh, tidak boleh, halal, haram, memenuhi persyaratan sah atau tidak, sedangkan Tuhan yang Maha Hidup tidak pernah hidup dari peraturan-peraturan, tetapi tidak terikat pada apapun dengan ke Maha annya. Islam yang ditemukan dilevel ini adalah Islam kulit luar. Jika berguru kepada ahli Tafsir, maka Islam itu adalah penafsiran-penafsiran, hafalan-hafalan, Islam hanya dijelaskan dari ayat-ayat, Tuhan hanya dijelaskan dari ayat ke ayat saja tanpa ada wujud yang sebenarnya.
Jika Islam didapat dari berguru kepada filosof, maka Islam yang hadir adalah Islam yang kritis, Islam yang dipreteli satu demi satu, sampai yang tersisa hanya eksistensi Tuhan, dan sang filosof yang hanya bisa mengantarkan manusia pada eksistensi adanya Tuhan, namun tidak pernah bisa sampai kepada wujud Tuhan, karena sandaran utama filsafat adalah rasio (akal) dan akal tidak akan pernah bisa sampai kepada Tuhan, karena Tuhan itu melampaui akal.
Ketika Islam itu didapat dari berguru kepada Sufi, didapat dari berguru kepada seorang Wali, maka Islam yang akan dipahami adalah Islam bukan sebagai sebuah aturan, bukan sebagai sebuah penafsiran dan bukan sebagai sebuah pemikiran , tetapi Islam sebagai sebuah cinta antara kekasih dan yang dikasihi, Islam sebagai keindahan tanpa sama sekali ada kekerasan, Islam yang ramah tanpa sama sekali ada amarah, Islam murni yang sama sekali tanpa iri dengki. Tuhan yang dipahami disini bukan Tuhan berdasarkan definisi, tetapi Tuhan murni sebagai Tuhan, Tuhan yang dibuktikan dengan Tuhan sendiri, sedangkan Tuhan pada level konsepsi, dibuktikan dengan akal, dengan alam dan dengan manusia. Islam sebagai sebuah awal yang murni, yang tidak terkontaminasi dengan fikih, dengan teologi, kalam dan tidak terkontaminasi dengan dinati-isme dan dengan berbagai pengetahuan lainnya hanyalah Islam yang dipelajari dari seorang Wali, rantai silsilah bergurunya bisa dipertanggung jawabkan dan bisa dibuktikan. Inilah Islam yang rahmatan lil’alamin itu, Islam yang tidak disandera oleh para agamawan, Islam yang bebas dari segala intervensi, Islam yang hanya ada Tuhan itu sendiri, tidak ada unsur lainnya. Islam seperti ini, pada perjalananya akan terasa asing, terutama terasa asing oleh orang-orang syariat, karena mereka sekian lama tersandera oleh pemahaman bawaan yang diciptakan manusia, bukan berdasarkan pemahaman yang murni diturunkan oleh Tuhan melalui para kekasihnya, melalui para Walinya.
Akhirnya, Islam yang asing itu adalah Islam yang  benar-benar rahmatan lil’alamin, Islam yang tidak tersekat oleh persyaratan, oleh peraturan, oleh kekafiran, kemurtadan, kemusyrikan, dan itu adalah Islam bersama para Wali…

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *