BERSYUKUR SEPENUH SYUKUR

Atas setiap hidangan yang kita nikmati, makanan kita santap di setiap gigitnya serta minuman yang kita reguk, maka pujilah Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar pujian.

Kita memujinya sebagai bentuk syukur karena sungguh-sungguh merasakan betapa berharga nikmatnya bisa mencecap makanan meski sepotong dan menyeruput minuman meski seteguk.

Betapa banyak saat ini yang sekedap untuk minum pun harus menunggu waktu disebabkan harus berjibaku dengan pasien, sementara untuk memasukkan makanan dan minuman tak sesederhana kita yang di rumah.

Maka memuji Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat makanan dan minuman, sungguh haruslah benar-benar sebagai ungkapan syukur kita. Betapa banyak yang lisannya mengucap hamdalah, tetapi hatinya mengingkari dan perkataan lainnya membantah, “Ya…, alhamdulillah, daripada tidak ada.”

Atau perkataan yang lebih terang lagi, “Ya sudah, disyukuri saja. Adanya begini, bagaimana lagi. Daripada lapar, ya sudah disyukuri saja.”

Ini bukanlah ungkapan syukur. Bahkan ia merupakan pengingkaran nikmat. Syukur tidak, ridha pun enggak.

Mari sejenak kita mengingat sabda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap hamba yang bertahmid (memuji, bersyukur) kepada-Nya setelah menyantap makanan atau meneguk minuman, atas makanan atau minuman yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim).

Tidak ada imbalan yang lebih besar, dan tidak ada pertambahan nikmat yang lebih agung, melebihi nikmat berupa ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah nikmat terbesar bagi seorang mukmin yang ia ingin matinya dalam keadaan tenang jiwanya (nafsul muthmainnah) dan ia diseru malaikat dengan sebutan itu saat dipersilakan kembali menghadap-Nya. Ia ridha kepada Allah dan Allah ‘Azza wa Jalla ridha kepadanya.

Betapa banyak orang yang merasa bersyukur, tetapi ia bukan sedang menuju Allah. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang dikenali sebagai ungkapan syukur, tetapi yang ia kejar bukanlah ridha Allah Ta’ala kepadanya, melainkan bertambahnya dunia di genggamannya. Ia menghafalkan teknik-teknik, pola-pola yang seakan menuju Allah Ta’ala.

Tidak. Ia sedang mengelabui dirinya sendiri. Ia mengajarkan, “Katakan pada diri Anda sendiri ‘Aku bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya’ maka Anda akan nikmat yang sudah miliki sekarang, akan bertambah. Jika sekarang Anda memiliki satu mobil, maka semakin sering Anda memperbesar rasa syukur, mobil Anda akan bertambah.”

Tidak. Ini bukan bersyukur kepada Allah. Bersyukur itu ada makna dan syaratnya.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *