Si Miskin dan Si Kaya Diantara Corona

Illustrasi

“Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya. Ini menjadi kerja sama yang penting,”

Kalimat indah yang tersusun rapi dan keluar dari mulut seorang direktur jenderal sebuah jawatan dimana kini tengah menerobos predikat pahlawan di dunia. Tak ada yang salah dari kalimat mu bapak. Setelah pimpinan mu cengar cengir dan menantang wabah tak bakalan masuk di republik ini. Justru kini wabah itu datang tak terkendali.

Puas dengan kepongahan mengatakan masker hanya untuk orang sakit, tapi disetiap kesempatan pimpinan mu mengenakan masker karena takut tertular. Belum tuntas dunia melihat kegopohan kalian mengatasi pagebluk yang tak bisa teratasi, lagi-lagi mulut kaya mu merobek hati warga Sudra.

Kami memang miskin bapak, makanan jatuh pun masih kami pungut dengan cukup membaca doa ‘belum lima menit’. Kami memang Sudra bapak, setiap makan siang tiba hanya mencuci tangan di parit sawah tanpa sabun cair yang kini sudah langka.


Kami akui, asupan kami sama sekali tak bergizi, hanya sego koceng berbungkus koran bekas, yang dibeli dari pasar loak pinggiran.

Tapi sadarlah pak, yang banyak terpapar adalah orang-orang yang kata nya kaya. Sejawat mu yang jadi menteri menghebohkan seantero negeri karena mencemooh makanan kami, kini terpapar. Dua orang yang pertama terpapar pula adalah orang yang bersentuhan langsung dari bangsa luar yang tak mungkin kami kenal. Jangankan kenal, untuk sekedar melihat sosok mereka ditempat-tempat wisata saja kami tak mampu. Penuhi kebutuhan sehari-hari saja kami susah.

Jangan lupa juga bapak, wabah ini menghantam ibukota dimana daerah yang menjadi sarang orang kaya. Tangio pak, korban yang meninggal sebagian besar adalah orang kaya. Tanya karena apa itu semua ? Jika boleh teriak, kalian lah yang menjaga jarak dengan kami. Jangan dekat-dekat karena kami miskin. Jangan buat kelakar jika hanya untuk merendahkan kami. Biarkan kami dengan kehidupan kami. Bawa virus itu bersama kalian sendiri, mati lah sendiri bersama virusmu.

Kalian sudah tidak butuh kami. Tanah kuburan sudah bisa kalian beli tapi tidak untuk para penggali. Mobil jenasah bisa kalian tebas, tapi tidak untuk pelayat. Sekali lagi jangan dekati kami bapak, biar kami hentikan pagebluk ini dengan cara kami. Akan kami tunjukkan kepada kalian, gotong royong kami, ibadah kami dan seluruh ikhtiar kami melawan pagebluk ini.

Maafkan kami pak menjadi penebar virus. Kami janji tidak akan mendekati bapak lagi. Tapi tolong agar bapak dan keluarga tidak tertular wabah ini, jangan sekali-kali makan beras kami, jangan sentuh roti yang sudah bercampur keringat para buruh-buruh kami. Jangan makan sayuran yang sudah tercampur tangan dan kaki kotor kami. Jangan makan telor dan daging yang sudah terpapar badan kami. Cukuplah makan barang-barang luar negeri. Oh ya, lepas pula batik anda, karena itu sudah terkontaminasi nafas dan keringat kami.

copas

Cak Besut 29 Maret 2020

Republik Besut

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *