Merdeka Belajar: Dari Praktik MIKIR, Pertanyaan Kritis sampai Pengelolaan Kelas

Oleh: Prof. Hasnah Faizah

KOMPAS.com – Mendikbud Nadiem Makariem telah mengeluarkan kebijakan merdeka belajar. Salah satunya dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu halaman.

Hanya saja RPP merupakan administrasi pembelajaran. Yang terpenting adalah menerapkan merdeka belajar itu sendiri dalam pembelajaran.

Penulis melihat salah satu ciri dari merdeka belajar adalah guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar lebih aktif dalam mengembangkan potensi terbaiknya.

Salah satu alternatifnya guru dapat menerapkan unsur pembelajaran aktif mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi atau disingkat MIKiR.

Konsep MIKiR mengaktifkan Siswa

Dalam pembelajaran dengan unsur MIKiR, guru akan lebih banyak berperan sebagai fasilitator. Lalu apa yang difasilitasi guru kepada siswa agar mereka bisa belajar lebih aktif?

Pada tahap mengalami, siswa difasilitasi untuk lebih banyak melakukan kegiatan dan mengamati. Seperti melakukan percobaan, pengamatan, dan berwawancara.

Guru cukup memberikan penugasan dan mendampingi siswa dalam pembelajaran. Jadi, siswa sendiri yang menemukan atau melakukannya secara langsung.

Pada tahap interaksi, siswa difasilitasi melakukan proses pertukaran gagasan, berdiskusi, atau memberikan komentar pertanyaan, dan saling menjelaskan. Dalam hal ini, seorang guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan teman-teman sekelompoknya.

Pada tahap komunikasi, guru mempersilahkan siswa untuk menyampaikan hasil interaksi dengan teman-temannya. Misalnya dengan memperesentasikan hasil karya pembelajaran atau melakukan karya kunjung.

Pada tahap refleksi, guru yaitu memunculkan sikap siswa untuk mau menerima kritik dan memperbaiki gagasan, hasil karya, maupun sikapnya.

Bila unsur MIKiR ini menjadi pembiasaan yang diterapkan dalam pembelajaran, para siswa akan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah secara kreatif dan hidup bersama dalam harmoni. Hal inil yang juga menjadi tujuan dari merdeka belajar.

Pertanyaan untuk meningkatkan keterampilan berpikir

Pemberian pertanyaan kepada siswa menjadi bagian penting dalam merdeka belajar.
Bertanya adalah cara paling efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa.

Pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa, sebaiknya mengacu kepada prinsip pertanyaan produktif, imajinatif, dan terbuka (PIT).

Pertanyaan produktif dapat mendorong siswa untuk mengamati, mencoba dan menyelidiki. Sedangkan pertanyaan tidak produktif, membuat siswa bisa menjawab pertanyaan tanpa melakukan pengamatan, tanpa mencoba, atau menyelidiki.

Bedakan kedua pertanyaan ini: “Apa warna jeruk ini? dan, Berapakah jumpah pasi jeruk ini?”

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan produktif karena siswa bisa menjawab pertanyaan dengan tepat jika siswa melakukan pengamatan terlebih dahulu dengan mencoba atau menyelidiki. Misalnya dengan membuka kulit jeruk.

Kemudian pertanyaan imajinatif yang dapat mendorong siswa untuk berimajinasi. Guru memperlihatkan gambar seorang gadis yang duduk di atas batu dipinggir pantai.

Pertanyaan imajinatif yang diberikan kepada siswa, “Apa yang gadis itu pikirkan? Untuk menjawabnya, siswa perlu berimajinasi terlebih dahulu.

Berbeda dengan pertanyaan yang faktual atau tidak imajinatif. Dimanakah gadis itu duduk? Dengan melihat gambar, siswa sudah dapat menjawab secara langsung karena jawabannya sudah ada di gambar.

Kemudian pertanyaan terbuka, yang mendorong siswa untuk menemukan lebih dari satu jawaban yang benar.

Misalnya, siswa diperlihatkan gambar persegi panjang yang lebarnya empat dan panjangnya enam. “Buatlah persegi panjang yang kelilingnya sama dengan keliling persegi panjang ini?” Maka siswa akan menemukan beberapa alternatif jawaban.

Hal ini tentu berbeda jika guru mengajukan pertanyaan: Berapa keliling persegi panjang ini?” Itu adalah contoh pertanyaan tertutup karena hanya satu jawaban yang benar.

Jadi pertanyaan merupakan alat yang penting untuk mendorong siswa bisa berpikir. Dalam merdeka belajar, guru perlu membiasakan mengajukan pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir. Salah satunya menerapkan pertanya PIT tersebut.

Pengelolaan lingkungan kelas lewat MASUK dan MIA

Agar penerapan merdeka belajar dapat optimal, guru juga perlu memperhatikan pengelolaan lingkungan kelas dengan memberikan motivasi, memberikan apresiasi, memperhatikan sumber belajar, melakukan umpan balik, dan menjalin komunikasi, yang disingkat dengan MASUK.

Di samping itu, pengaturan meja-kursi juga menjadi dasar pertimbangan, yakni mobilitas antara siswa dan guru; interaksi antar siswa, dan akses ke sumber belajar, yang disingkat dengan MIA.

Lingkungan kelas sangat berperan dalam menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk belajar.

Penataan lingkungan kelas bisa berupa pengaturan meja-kursi siswa, penataan sumber dan alat bantu belajar, serta penataan pajangan hasil karya siswa.

Penataan meja-kursi siswa paling sedikit memenuhi tiga kriteria, yaitu:

(1) Mobilitas, memudahkan siswa untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain,

(2) Interaksi, memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan sesama teman dan gurunya, dan

(3) Aksesibilitas, memudahkan siswa mengakses sumber dan alat bantu belajar.

Penataan pajangan hasil karya siswa selain perlu memenuhi aspek estetika (keindahan), guru juga perlu mengatur sehingga berada dalam jangkauan siswa. Agar mereka benar-benar memperoleh manfaat dari pemajangan hasil karya tersebut.

Agar merdeka belajar dapat diterapkan secara optimal, guru bisa mencoba menerapkan MIKiR, memberikan pertanyaan PIT, dan mengelola lingkungan kelas dengan MASUK serta mengatur tempat duduk dengan MIA.

Penulis: Prof. Hasnah Faizah, Guru Besar Universitas Riau dan Fasilitator Dosen Program Pintar Tanoto Foundation.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *