Tulus

Jangan salah, Nak

Ketulusan itu bukanlah di kereta api luxury, sleeper atau priority. Ketulusan itu juga bukan di lounge saat menunggu penerbangan. Ketulusan itu ada pada sahabat yang saling mencinta karena iman dan ada di rumah dari kedua orangtua yang mencintai apa adanya.

Jangan salah, Nak

Senyum yang tulus bukanlah yang kita tebus dengan fulus. Bukan pula yang kita raih dengan prestise. Senyum tulus itu mengembang dari hati yang lapang. Senyum yang alami tak sama dengan senyuman tulus dari hati. Senyum alami dapat dilatih, senyum yang tulus menyemburat spontan. Tak ada hubungannya dengan 2 cm ke kiri atau ke kanan.

Jangan salah, Nak

Saat engkau dilayani dengan sigap dan ramah luar biasa di berbagai executive lounge maupun kereta api khusus, itu bukanlah karena menghargai dirimu. Bukan. Itu menghargai pilihan yang engkau tebus dengan uang. Dan itu wajar karena memang begitulah bisnis.

Begitu esok engkau naik kereta yang sama beda kelasnya, engkau akan segera tahu bahwa semua itu semu. Sangat berbeda dengan perhatian guru-gurumu yang ketika engkau sudah lama meninggalkan sekolah, mereka masih mengingat dan mendo’akanmu. Sangat berbeda dengan para Ustadz yang menempamu setiap hari pesantren. Sangat berbeda dengan para masyayikh yang mendo’akanmu tanpa jemu.

Jangan salah, Nak

Dunia ini hanya sementara. Sebagaimana sangat sementaranya segala yang ada, baik nikmat maupun penatnya. Semua ini adalah jalan untuk kembali pulang ke kampung akhirat. Semoga kelak kita bisa bersama-sama di surga-Nya bersama orangtua, kakek-nenek, saudara-saudaramu dan keluarga. Inilah tempat segala yang sesungguhnya berada.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *