Bangkit (Cerpen)

Illustrasi

Oleh; Sayid Amrizal SE

Hari hari yang keras kini sedang kujalani karena kisah cinta, kisah yang amat pahit kurasa hingga indahnya malam ini seakan tak mampu membuatku tersenyum lagi. Tetesan air mata mulai mengalir di pipiku dan perlahan kuusap lalu menetes lagi, kuusap lagi.

Ya, sakit memang jika sedang putus cinta. Rasanya beberapa menit lalu kata kata terakhirnya masih bisa kurasakan merobek robek hatiku, “Sudah sana…., pergilah jika itu yang kamu inginkan! Kamu kira aku tak bisa menemukan yang lebih baik darimu. Semoga kamu tak menyesali keputusanmu yang telah menyia-nyiakan cinta suciku!” Kutipan pesan yang masuk ke ponselku.

Cahaya bulan malam ini begitu terang, bintang pun berkelap kelip memamerkan keindahannya. Aku berjalan menyusuri sebuah lorong nan sepi, tak ada satu orangpun di sana. Hatiku terasa sepi dan gundah dengan segala kekacauan yang terjadi hari ini. Hari di mana seharusnya akan kebahagiaan yang kudapati.

Namun apa yang terjadi? Hal buruk justru menimpaku bertubi tubi, konflik dengan orang tua karena ketidak-lulusanku, perayaan ulang tahun yang terpaksa gagal begitu juga hadiah sepeda motor yang gagal kudapat. Adik yang menyebalkan dan sorak sorai teman teman, merayakan kelulusannya.

Beberapa telephone masuk pun sengaja kutolak karena sudah begitu muaknya diriku. Air mata terus mengalir di pipiku diikuti dengan sakit kepala yang mulai terasa. Seakan tak mampu bangkit, aku terus duduk termenung di pinggir jalan.

“Halo, Mba…., lagi sedih banget, nih, kayanya, bisa bagi uangnya dong,” ucap seorang pemuda yang sedang mabuk menghampiriku.

Karena tak meresponnya, pemuda itupun mengancamku dengan sebilah pisau lipat yang dikeluarkan dari saku celana jeansnya. Tanpa berfikir panjang, kuambil tas di sebelahku dan kuserahkan semua uang yang kumiliki.

“Ambil semua ini dan pergilah menjauh!”

Kembali ku susuri jalan hingga sampailah ke sebuah jembatan tua dengan jurang tinggi di bawahnya. Kakiku mulai melangkah maju dan ku angkat kaki kananku.

Selangkah lagi tubuhku akan jatuh ke dalam jurang, semua kekacauan di hatiku seakan menghilangkan rasa takutku terhadap ketinggian. Namun tiba tiba seseorang menarik bajuku. Ternyata pria pemabuk tadilah yang menarikku menjauh dari pinggir jembatan.

“Kenapa kamu lakukan ini, kenapa kamu menolongku?” Tanpa berkata apa apa ia pergi meninggalkanku lalu kukejar dia. Setelah beberapa saat ia baru mulai berbicara.

“Aku sangat membenci orang orang lemah sepertimu. Maaf jika aku menarikmu,” ucapnya sembari menatapku tajam dan menjulurkan tangannya. Kaget bukan main tak kala kulihat jemari tangannya yang ternyata hanya tersisa dua jari saja.

“Kaget, ya? Ini adalah bukti kerasnya kehidupan di jalanan. Jariku yang lain hilang dipotong preman karena persaingan.” Karena tak kusahut jabatan tangannya, ia pun meletakkan kembali tangannya dan melanjutkan ceritanya.

“Maaf kuambil tasmu, sudah tiga hari aku tak makan. Biasanya aku makan dari sisa makanan di tong sampah. Namun karena hujan deras kemarin, semua makanan yang kuanggap masih layak sudah berubah membusuk.”

Memang jika dilihat dari tubuhnya, ia sangat kurus. Sembari menahan aroma alkohol yang begitu menyengat dari mulutnya, kuberikan kembali tasku padanya. “Ambilah ini, mungkin kamu lebih membutuhkannya.”

Dari percakapan singkat dengannya, hatiku mulai kembali kuat. Tak bisa kubayangkan jika aku yang berada di posisinya. Ya, meskipun hidupku selalu kecukupan, namun tak pernah ada rasa syukur di hati. Pria yang selama ini kuperjuangkan namun ternyata selalu membuatku kecewa, pun, seakan tak lagi membebaniku.

“Pulanglah, masih banyak yang menanti kepulanganmu!” Ucapnya sembari beranjak menjauh dariku.

Malam semakin sunyi, kususuri jalan ke arah rumah. Ketika sampai di persimpangan jalan, kudapati kekasihku berdiri dengan segenggam bunga di tangannya. Tiga orang yang kukenal juga berdiri menantiku, ya, kedua orang tua dan adikku pun ikut mencariku.

“Maaf sayang, aku telah banyak mengecewakanmu dan salah menilaimu.” Pelukan erat mendarat di badanku. Tak kuasa menahan tangis haru, kupeluk balik kekasihku.

Beberapa saat berlalu ia kemudian menyerahkan bunga di tangannya dan sebuah buku kecil yang ternyata diaryku. Di buku kecil itulah aku menuliskan keluh kesah dan rasa banggaku pada sosok pria yang sedang menggenggam erat tanganku ini.

Di balik sana, keluargaku tersenyum melihatku kembali. Kami pun masuk ke mobil dan pergi ke mall untuk merayakan ulang tahunku. Ya, meskipun hadiah motor tetap tak kudapat karena aku gagal lulus ujian.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *