Melawan Lupa

Jufri Aswad

Oleh; Jufri Aswad

Musibah gempa dan gelombang Tsunami , 26 Desember 2004 meluluh-lantakkan bumi Serambi Mekah. Sendi kehidupan masyarakat rapuh nyaris tidak berdenyut. Korban jiwa mencapai 300.000 orang, mayat bergelimpangan, masyarakat kehilangan orang-orang tercinta, rumah warga hancur disapu bersih Tsunami.

Kegiatan Belajar-Mengajar tak ada pada hari itu. Ingat kawan, jangan lupa peristiwa yang sangat dahsyat tersebut. Gempa berskala 9,7 skala righter itu terjadi pada hari Ahad pagi, seakan hari itu, kiamat tiba, lantunan kalimah La Ilaha Illallah menggema bumi.

Pada saat itu Allah SWT mengguncangkan bumi. Tanpa disadari beberapa saat terjadi gempa bumi, air laut tumpah ke darat dengan ketinggian yang tidak lazim terlihat, itulah gelombang Tsunami.

“Allahu Akbar….. Allahu Akbar…. Allahu Akbar.”

Semua warga mencari tempat pengungsian yang aman. Warga yang domisilinya jauh dari wilayah yang terkena Tsunami menerima dan membantu saudaranya yang se-iman, satu suku, satu daerah dengan penuh keakraban, saling merasakan penderitaan.

Indahnya akan persaudaraan di kala waktu, orang Aceh saling mencintai dan berkasih-sayang. Memberikan tempat tinggal untuk siapa sahaja apalagi saudara se-iman dan sungguh tak akan terkira jika itu memang untuk sesama, Aceh.

Inilah inti ajaran Islam, Ukhuwah Islamiyah yang harus selalu terpatri dalam jiwa. “Bek meubeungeh-beungeh, bek saleng meudhot-dhot dan bek saleng meuhujat.”

Sekarang, peristiwa dahsyat itu 15 tahun sudah terkenang dan berlalu, lupakah kita kepada peristiwa itu? Apakah kita saling mencaci-maki, masih saling bercerai-beraikah kita, hari ini? Jawabannya hanya ada pada diri kita, diri kitalah yang bisa menjawab itu semua.

Walaupun zaman kini orang-orang hampir semuanya bersifat materialistis, kawan. Bahkan persahabatan dan persaudaraan terkadang sudah diukur dengan materi dan jabatan. Rasa kasih-sayang seakan sudah hilang di negeri ini.

Mereka yang miskin, ya, miskin terus, mereka yang tidak punya pekerjaan, ya, nganggur terus, salah siapa? Kini nampak sudah hampir semua warga saling menghujat dan kurang mau untuk bersilaturrahim. Na’uzubillah. Entah ke mana sudah perginya rasa indah persaudaraan itu.

Kawan.

Jangan pernah sombong karena jabatan, jangan sombong karena berlimpah harta dan jangan pernah anda itu sombong jika tengah bernasib baik dalam hidup. Sering-seringlah untuk memandang, perhatian kepada sekalian saudara-saudara kita yang mereka itu sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Mari sama-sama saling memperhatikan saudara-saudara kita apalagi mereka yang menjadi tetangga-tetangga kita, yangmana terkadang mereka itu sangat-sangat membutuhkan bahpun hanya sepasang baju, selembar kain dan sekilo beras. mari untuk meringankan hidup mereka.

Dan kita semua jangan pernah lupa untuk meminta, berdoa kepada Allah SWT semoga terhindar dari musibah yang lebih besar lagi dan kerapuhan silaturrahmi.

Jufri Aswad adalah guru Pendidikan Agama Islam di Dayah Terpadu Inshafuddin, ia juga suka menulis.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *