Cerpen; Impian

Sayid Amrizal SE bersama sang Istri dan Kedua Buah Cinta Mereka

Oleh; Sayid Amrizal SE

“Aku tertawa puas tanpa menghentikan langkah kaki ini.”

“Rita,” panggilku.

“Mari kita wujudkan impianku bersama-sama, dengan kekuatan impianku dan juga kekuatan persahabatan kita. Setelah itu mari kita cari impianmu.”

“Ah, iya!”

“Alasan kenapa dia menjadi sahabat teranehku karena dia tak punya impian.”

“Dan itu sangat aneh. Tapi kita kan hadapi semuanya bersama, Ta!”

*****

Impian atau cita – cita adalah sesuatu yang teramat ingin kita capai bahkan semua manusia menginginkan itu. Apakah kalian mempunyai suatu yang teramat ingin dicapai? Pasti punya, bukan! Begitupun denganku.

Ika namaku, Impian terbesarku adalah menjadi seorang penulis yang karyanya dihargai dan bisa membuat orang-orang tersenyum puas saat membacanya. Aku juga ingin, sangat ingin karya-karyaku booming hingga dapat dibaca diseluruh negeri.

Membayangkan betapa bangganya kedua orangtuaku nanti sungguh membuatku tak sabar ingin mewujudkan mimpi itu. Aku mendesah pelan, memejamkan kedua mataku, membisikkan harapan kepada Tuhan supaya impianku segera bisa terwujud.

Kubuka mataku kembali lalu menatap ke arah langit biru yang seakan langit itu tersenyum kepadaku, langit yang  cerah pun menyemangatiku.

“Ika?”

Kutolehkan kepalaku ke arah samping, kudapati seorang gadis cantik duduk di sampingku, entah sejak kapan dia sudah berada di sampingku. Gadis yang sedang tersenyum manis itu adalah sahabatku dari kecil.

“Rita, sejak kapan kamu disini?” Tanyaku dengan kening berkerut. Dia masih tersenyum.

“Kira-kira 5 menit yang lalu,” jawabnya yang kuyakini jawabannya itu asal-asalan saja.

“Ayolah.”

“Aku bertanya serius!”

Diletakannya jari telunjuk dan tengah di samping kepalanya membentuk huruf v. kugelengkan kepalaku melihat kelakuan sahabatku yang agak aneh ini. Kembali aku sibuk dengan kegiatan awalku, menikmati semilir angin yang berhembus nyaman di depan kelasku.

“Kekuatan dari sebuah impian, kamu percaya itu, kan, Ta,” senyap.

Tak ada jawaban dari sahabat teranehku ini. Kumelirik sekilas ke arahnya, bingung. Kesan pertama yang kudapati di wajahnya. Sungguh, wajah bingung yang sangat konyol.

“Hmm. Masih bermimpi menjadi penulis, Ka?”

“Hey, bukan bermimpi tapi itu impian!” Aku menjitak pelan kepalanya membuat dia meringis dan menampakan mimik tak suka kepadaku.

“Hey, jangan pukul kepalaku, sakit tahu! Lagi pula itu kan sama saja?” Jawabnya.

“Beda tahu! Bermimpi itu hanya di sa’at kau tak sadar dan tak tahu apa yang sedang kaulakukan sedangkan impian itu adalah sesuatu yang teramat dan ingin kaucapai.”

“Ya, biasa aja kali, gak usah pake jitak-jitak.” Aku hanya tersenyum malu seraya menunjukan deretan gigi rapiku kepadanya.

“Memangnya kamu benar-benar ingin menjadi penulis, Ka?”

“Rita sayang, Rita cantik, Rita imut sudah berapa kali aku bilang jika aku ingin menjadi seorang penulis dan aku benar-benar serius.”

“Iya sih, tapi, Ka.” Kulihat ada keraguan di wajah sahabat cantikku ini. Kudorong pelan jidatnya membuat dia meringis dan menatap tajam ke arahku lagi.

“Kegagalan bukan akhir dari segalanyakan, Ta. Proses menjadi sesuatu yang berharga, itu tak semudah menarik nafas, kan, Ta. Aku hanya ingin mencoba menjadi sesuatu yang punya makna, Ta.” Kusandarkan kepalaku di atas bahunya yang lebih tinggi dariku. Aku tersenyum manis seraya memeluk pinggangnya erat.

“Ayo kita wujudkuan impianmu bersama-sama dengan kekuatan impian yang kamu punya!” Serunya semangatnya kini membuat aku terkekeh geli mendengarnya.

“Hmm. Juga dengan kekuatan persahabat kita!” Lanjutku pelan dan kudapati anggukan setuju darinya.

“Jangan pernah buat kekuatan itu terkikis hanya karena kegagalan, Ka.” Bisiknya pelan, aku mengangguk.

“Jangan buat kekuatan persahabatan kita terkikis dengan pengkhianatan, Ta.” Decakan pelan terdengar saat aku menirukan gayanya barusan.

“Yang paling penting jangan pernah menyerah dan putus asa!” Kukecup pipinya singkat lalu berlari setelah menjulurkan lidah ke arah gadis bertubuh ramping itu.

Aku sangat tahu jika dia paling tak suka dikecup. Kalian dengar, kan teriakannya yang menggelegar itu, teriakan khasnya, Rita menggema. Dia sahabatku tercinta yang kini tengah berlari mengejarku.

Sayid Amrizal SE merupakan TU di Dayah Terpadu Inshafuddin.

@Inshafuddin Media

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *