Sepucuk Surat Untuk Hurria di Malam 4 Desember

Syukri Isa Bluka Teubai

Karya; Syukri Isa Bluka Teubai

“Abang tahu, hari ulang tahunmu adalah di tanggal 3 Desember, dek Hurria.”

“Abang selalu ingat akanpada hari yang bertanggal 3 di setiap bulan Desember.”

“Dan tahun ini, umurmu genap sudah 24 tahun, Hurria,” Agam berguman sendiri, tangannya terus memainkan pulpen berdawat hitam di atas selembar kertas Hvs berwarna. Pemuda itu tengah fokus menulis sepucuk surat untuk sang kekasih tercinta, Hurria Diba.

Malam Senin dan ditemani rerintik hujan, akan tingkap di bilik kamarnya masih terbuka namun tidak terbuka lebar, meja kecil segi empat berwarna coklat tua menjadi saksi bisu. Tilam, kasur, bantal, selimut, lemari baju, rak buku dan seisi bilik kamar lekaki penyuka sastra yang kini tengah menulis sepucuk surat untuk kekasihnya, juga turut ikut menjadi saksi bisu di malam itu.

Agam bukan tak ingat perihal akan tanggal hari ulang tahun sang kekasih, namun, terkadang ia berpura pura untuk melupakan akan tanggal, akan hari yang sudah menjadi bahagian daripada sejarah hidupnya. Tanggal dan hari tersebut sudahlah menjadi sejarah bahagi dirinya selama sudah lebih dari lima tahun ia membina hubungan dengan dara pujaannya tersebut.

Lelaki itu bukan tidak ingat akanpada hari bahagia sang kekasih tercinta, adalah juga hari hari hari bahagia bahagi setiap manusia oleh kerana bertambahnya masa di dalam hidupnya, oleh kerana bertambahnya akan umur yang senantiasa masih dianugerahi Allah SWT untuk setiap insan dan segala macam jenis makhluk-Nya.  

Akan tetapi untuk 3 Desember kali ini, ia sengaja tidak mengucap apa apa untuk perempuan peunawa hidupnya. Dan benar sahaja tak kala di harinya mereka berjumpa, sang kekasih langsung bertanya perihal hari ulang tahunnya kepada Agam.

Dara itu langsung bertanya kenapa kali ini lelakinya itu tidak mengucapkan satu atawa dua patah kata do’a untuk dirinya, kenapa lelakinya itu di bulan Desember tahun ini sudah berbeda, lelakinya itu sudah tidak seperti dahulu lagi, tidak seperti di tahun tahun yang lalu.

Adapun Agam tak langsung menjawab pertanyaan sang kekasih, yangmana sang daranya itu langsung sahaja bertanya kepada dirinya perihal hari ulang tahunnya, perihal Agam tidak mengucapkan satu dua patah kata untuknya, Hurria tidak menunggu lama untuk bertanya padahal mereka baru sahaja sampai di kedai kopi.

Bahpun demikian Agam membiarkan daranya tersebut berkata kata, berkata ini dan itu bahpun kala mereka baru sahaja berjumpa, di waktu, keduanya itu bertemu di kedai kopi langganan. Dan jika nak bertemu muka, bertukar tukar cerita mereka pasti akan berjumpa di kedai tersebut.

Pada sa’at kekasihnya berkata kata Agam hanya melihat ke arah daranya sembari tersenyum dan menyimak semua keluh kesah pujaan hatinya, tentulah sang kekasih pujaan itu adalah Hurria Diba, namun daranya tidak berkata kata dengan nada tinggi, kerana mereka tengah berada di kedai kopi. Lagipula keduanya itu sekalipun tidak pernah berucap dengan nada tinggi antara satu sama lainnya.  

Akan kedai kopi ‘Nanggroe’ yang berada di Simpang Tujuh Ulee Kareng merupakan kedai langganan bahagi keduanya, sekalian pekerja mahupun toke kedai akan minuman khas sekaligus minuman terfavorit dan hampir semua orang Aceh merupakan pecinta minuman beraroma tertentu tersebut, sekalian mereka sudahlah tahu dan sangat kenal akan Agam dan Hurria.

Hari Ahad yang bertanggal angka 3 di bulan Desember tahun ini berlalu, hampir setengah hari mereka berada di kedai kopi Nanggroe. Kini, mereka sudah kembali ke Kosan masing masing. Minggu malam atawa malam Senin, Agam baru memulai untuk menulis sepucuk surat untuk kekasihnya, Hurria Diba.  

Ia menulis surat tersebut bukan kerana sang pujaannya itu telah mengomelinya tak kala mereka berjumpa, bukanlah bersabab daripada omelan Hurria daranya, tapi, hanya kerana sahaja Agam ingin menulis surat itu di malam sesudah hari ulang tahun daranya.

Beberapa hari, sebelum harinya Hurria berulang tahun ia sudah mempersiapkan diri untuk diomeli oleh kekasihnya kerana, memang, ia sudah berniat tak akan mengucap sepatah atawa dua patah kata do’a untuk daranya, tepat di malam tersebut. Ia hanya akan mengucap kata selamat mengulang tahun kepada sang pujaan, selepas dari malam dan hari Ahad.

Adalah di malam Isnin, sekarang ini ia nak mengucapkannya, maka baru sekaranglah ia akan mengucapkan kata kata selamat mengulang tahun untuk daranya. Lelaki penyuka sastra itu menyampaikan kata kata selamat untuk daranya melalui sepucuk surat yang akan ditulis, kini.

Hurria Diba, sang kekasih pujaan tidak tahu bahawa Agam akan menulisnya sepucuk surat ulang tahun, dara itu berpikir bahawa lelaki terkasihnya tersebut tidak akan lagi mahu untuk mendo’akannya dengan sepatah dua patah kata do’a kerana hari bahagia itu sudah pun berlalu.

Agam terus menulis, gerimis hujan, pun, sudah pergi dan tidak lagi menemani dirinya yang tengah sendiri di malam tersebut. Pulpennya yang berdawat hitam terus menari nari di atas kertas hvs berwarna, malam semakin pekat dan sunyi, sesekali ia menoleh ke luar melalui tingkap bilik kamarnya yang masih terbuka.

Pukul 00;00 Waktu Indonesia bahagian Barat pun tiba, tanggal berganti dari tiga menjadi empat. Surat untuk sang kekasih pun hampir selesai ditulisnya, huruf furuf abjad tertulis tegak dan bersambung, huruf huruf itu tertulis rapi di atas kertas hvs berwarna.

Tanggal 4 Desember, kini, sudah dan tengah menyapa dirinya, sebuah senyuman merekah di bibir mulut wajahnya. Keinginannya untuk menulis sepucuk surat buat sang kekasih di malam 4 Desember sudah tercapai. Sepucuk surat itu telah selesai ditulisnya untuk sang kekasih tercinta, Hurria Diba.

Syukri Isa Bluka Teubai, penyuka sastra.

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *