Pilar Masyarakat Madani

Ilustrasi

Oleh; Jufri Aswad

HIJRAH merupakan langkah perubahan dari suatu keadaan yang kurang baik kepada keadaan yang lebih baik, dan mempunyai masa depan yang lebih bermartabat. Dalam konteks terminologi hijrah adalah usaha yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Sebab-sebab Rasulullah saw hijrah ke Madinah adalah pertama karena perintah dari Allah swt, kedua menghindari dari kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak mencelakakan Rasulullah dan kaum muslimin.

Di Mekkah masyarakatnya mencaci dan memusuhinya, sebaliknya masyarakat Madinah menanti dan menunggu kedatangan Rasulullah saw. Di Madinah Rasulullah saw tidak menemui kesulitan dalam menyebarkan agama Islam, menyampaikan petunjuk-petunjuk Islam kepada masyarakat yang tersesat hingga pada akhirnya mereka memeluk agama Islam.

Nabi Muhammad saw dan para sahabat disambut dengan hangat oleh masyarakat Madinah, yang kemudian menyebut kita tempat hijrah Nabi itu sebagai Madinatun Nabi atau Kota Nabi (K. Ali, 1996:42).

Strategi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw setelah hijrah ke Madinah antarai lain: Pertama, membangun masjid yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat shalat tapi juga melakukan aktivitas lainnya untuk kepentingan umat Islam.

Kedua, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam satu semangat ukhwah Islamiyah yang kokoh; Ketiga, menciptakan perdamaian antarsuku yang kemudian melahirkan Piagam Madinah, dan; Keempat, menggalang kekuatan untuk mempertahankan Agama Islam.  

Dengan pilar-pilar itulah Rasulullah saw membangun kota Madinah menjadi lebih baik, berkembang, dengan tingkat kehidupan masyarakatnya yang lebih makmur dalam bingkai akidah Islamiyah.

Menjalankan syiar agama Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, hingga terwujud satu kehidupan masyarakat yang madani. Semua ini berhasil diwujudkan dalam waktu singkat dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat Madinah ketika itu, di bawah kepemimpinan Rasulullah saw.

Berbasis syariat
Pembangunan masyarakat madani tidak akan terwujud bila tanpa melibatkan partisipasi masyarakat sebagai motor penggerak suksesnya pembangunan pada suatu negeri. Pembangunan masyarakat Madaniyah merupakan suatu cita-cita, yang besar harapan dapat terwujud dalam menegakkan syariat Islam secara kaffah di tengah-tengah masyarakat. Pilar-pilar penting tersebut hendaknya juga bisa dijadikan sebagai pendukung dalam mewujudkan pembangunan masyarakat berbasis syariat Islam di Aceh.    

Mewujudkan masyarakat yang madani dengan menjunjung tinggi akidah Islam, hanya mungkin tercapai jika kita terus menjaga dan merawat akidah ini dengan baik, serta tidak terpengaruh dengan aliran-aliran yang menyesatkan.

Dan, itu berarti setiap muslim harus memiliki perisai iman: Siapa Tuhan yang patut disembah; Malaikat-malaikat yang harus diyakini; Rasul yang harus diteladani; Kitab yang harus dipedomani; Hari akhir yang tidak dapat dipungkiri, serta; Qadha dan qadar yang harus diimani. Iman lebih berharga dari uang, jabatan, kedudukan, perniagaan, dan lain sebagainya.

Perilaku masyarakat dalam kesehariannya harus berpedoman kepada akidah Islam yang benar yang sesuai dengan Alquran dan Hadis Rasulullah saw. Pemerintah daerah membuat program pengawasan terhadap kelangsungan kegiatan keagamaan di gampong-gampong.

Menghidupkan pengajian di pedesaan seperti di balai-balai dan meunasah merupakan langkah konkret untuk mewujudkan masyarakat yang taat pada akidah Islam. Masyarakat Islam adalah sebuah masyarakat Rabbani (berpegang pada nilai-nilai Illahi).

Anak-anak usia sekolah wajib pada malam hari belajar agama Islam di dayah atau balai-balai pengajian. Tempat-tempat yang selama ini dijadikan sebagai penghambat dan kemunduran penguasaan ilmu agama di kalangan anak dan remaja, seperti: warnet, cafe, handphone (HP), media televisi perlu ada pengawasan yang baik terutama oleh orang tua dan masyarakat.

Melalui pengajian dan pendidikan agama yang mampu mendekatkan masyarakat kepada pengamalan akidah Islam yang benar. Dan melalui belajar pendalaman ilmu agama Islam masyarakat terhindar dari pengaruh aliran-aliran yang menyesatkan.

Kedua, menghidupkan syiar Islam dalam masyarakat. Masyarakat Islam adalah masyarakat dakwah, dimana perlu menghidupkan syiar agama Islam dalam tatanan kehidupan masyarakat. Masyarakat Aceh tidak boleh melupakan syiar-syiar Islam yang sejak dulu dilakukan dan dikembangkan oleh masyarakat Aceh sebelumnya.  

Ciri Masyarakat Madani
Masyarakat yang taat menjalankan ibadah kepada Allah swt merupakan ciri khas masyarakat madani. Melaksanakan ibadah secara benar akan tercipta komunitas masyarakat yang aman, tentram dan mendapat lindungan Allah. Masyarakat madani dalam paradigma Islam adalah masyarakat yang berdasarkan iman kepada Allah.

Sebab, iman kepada Allah akan membuat kehalusan dan ketinggian moral dan kesadaran sosial yang dalam selanjutnya melahirkan perilaku budaya dan kontrol moral sosial yang tinggi. Semua aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan kebudayaan harus berprinsip pada mengaktualisasikan nilai-nilai Illahiyah.

Pilar masyarakat madani adalah melaksanakan kegiatan dakwah (amar makruf nahi munkar). Kewajiban berdakwah merupakan tugas yang harus diemban oleh masing-masing individu dan sekelompok orang yang mempunyai wewenang dan kemampuan dalam menyuruh kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar.

Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyeru (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Seseorang yang hendak melaksanakan dakwah hendaknya memperbaiki dirinya sendiri terlebih dulu. Jika seorang penyeru dakwah sering melakukan perbuatan tercela dan ia mengajak kepada kebaikan, orang lain tidak akan tertarik dan itu berarti dakwah akan gagal.

Menurut Prof A Hasjmy dalam bukunya Dustur Dakwah, pengertian dakwah adalah menyeru, mengajak umat manusia ke jalan Allah (kebaikan) dan mencegah perbuatan mungkar yang terlebih dulu dikerjakan/diamalkan oleh penyeru (da’i) itu sendiri.

Dalam konteks mengimplementasikan pengamalan nilai-nilai syariat Islam dalam tatanan masyarakat Aceh, kegiatan dakwah dengan menyeru kepada makruf dan mencegah dari yang munkar, tidak boleh berhenti dilaksanakan kepada masyarakat.

Pembinaan masyarakat Aceh yang Islami harus berlangsung sepanjang hayat tidak boleh berhenti walaupun diterjang oleh berbagai bentuk permasalahan dakwah yang menghadang. Pelaksanaan syariat Islam secara kaffah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi menjadi tugas mulia semua lapisan masyarakat Aceh.

Kegiatan dakwah dalam kurun waktu akhir-akhir ini berkurang dilaksanakan. Ada gampong yang lupa memperingati hari-hari besar Islam, ada di gampong-gampong jamaah shalat di masjid mulai berkurang, kegiatan pengajian tidak mendapat partisipasi masyarakat sehingga berdampak kepada kurangnya masyarakat memahami ilmu pendidikan agama Islam. Permasalahan ini merupakan menjadi tanggung jawab pemerintah (da’i sebagai penguasa) dan masyarakat sebagai pendakwah secara kelompok dan individu.

Harapan kita semua memasuki tahun baru Islam 1434 Hijriyah ini, hendaknya menjadi momentum bagi upaya mewujudkan masyarakat yang madani di Aceh, yang terhindar dari perpecahan, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan. Bersamaan dengan itu, kita tanamkan pula tekad untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, mandiri, makmur, dan konsekuen menjalankan syariat Islam. Selamat tahun baru 1434 Hijriyah!

* Jufri Aswad, S.Ag, Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, kini bertugas sebagai Staf Pengajar pada Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh. Email: jufri_aswad@yahoo.co.id

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *