Rasulullah Melawan Hegemoni Ekonomi, Damai Tapi Efektif, Beginilah Caranya;….

Dayah Terpadu Inshafuddin

Di masa-masa awal Rasulullah Muhammad SAW dan umat Islam berada di Madinah, gangguan masih kerap dialami. Salah satunya dari komunitas Yahudi melalui ekonomi. Komunitas Yahudi sempat menguasai perekonomian Madinah. Mereka menjalankan praktik ekonomi yang tidak manusiawi. Salah satunya menjebak orang dengan utang berbunga sangat tinggi.

Selain itu, komunitas Yahudi Madinah juga suka memantik perselisihan antara Suku Aus dan Suku Khazraj. Sehingga, kondisi perekonomian Madinah kala itu benar-benar merugikan penduduk terutama umat Islam. Begitu tiba di Madinah, Rasulullah kemudian mendirikan pasar dan mengajari umat Islam mengenai tata krama dalam perdagangan, mendorong para sahabat untuk berbisnis, serta mencari rezeki dengan jalan halal.

Kabar pendirian pasar oleh Rasulullah membuat komunitas Yahudi Madinah kala itu gusar. Apalagi, umat Islam kala itu bisa menumbangkan hegemoni ekonomi komunitas Yahudi yang menyengsarakan.

Komunitas Yahudi Madinah Terpuruk

Alhasil, komunitas Yahudi kala itu menjadi terpuruk. Mereka juga tidak bisa lagi meneror masyarakat Madinah dengan bunga pinjaman yang tinggi dan praktik perdagangan yang memeras.

Komunitas Yahudi tidak terima dan menuding Rasulullah serta umat Islam menghancurkan bisnis mereka.

Tudingan itu memicu perang komunitas Yahudi melawan umat Islam, baik perang dagang maupun pertempuran fisik. Sayangnya, komunitas Yahudi tidak pernah sekalipun menikmati kemenangan.

Pasokan Gandum ke Mekah Dicegat

Di lain waktu, umat Islam mendapat perlakuan jahat dari kaum Musyrik Mekah. Tetapi, hal itu tidak dibalas Rasulullah dengan kekerasan namun tindakan dapat disertai strategi jitu.

Suatu waktu, pemimpin Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal, mendapat caci maki dari kaum musyrik Mekah lantaran memutuskan memeluk Islam. Merasa tidak terima, Tsumamah yang hendak umrah mencegat pengiriman gandum Yamamah menuju Mekah.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat Mekah mengalami kelaparan berat lantaran pasokan makanan habis. Mereka terpaksa makan ilhis (makanan yang terbuat dari campuran darah dan bulu unta) sekadar untuk bertahan hidup.

Kaum Quraisy Mekah Kelaparan Hebat

Kondisi ini berlangsung hingga beberapa hari. Lama-lama, kaum Quraisy Mekah tidak betas dan mengirim surat kepada Rasulullah.

” Kau menyerukan silaturahmi, tapi kau sendiri yang memutus silaturahmi dengan kami. Kau telah membunuh ayah-ayah kami dengan pedang dan anak-anak kami dengan kelaparan,” demikian isi surat tersebut.

Setelah mendapat surat itu, Rasulullah segera mengirim surat kepada Tsumamah, memerintahkan dia untuk tidak menahan pasokan makanan kepada kaum Quraisy Mekah. Tsumamah patuh dengan perintah itu dan membolehkan rombongan pemasok gandum ke Mekah lewat.

Beberapa saat kemudian, turunlah wahyu dari Allah SWT kepada Rasulullah berupa Surat Al Mukminun ayat 76.

Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya dan (juga) tidak merendahkan diri.

[]Sumber: NU Online/Dream.co.id

@Inshafuddin Media

Post Author: @Inshafuddin Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *